Senin, 12 November 2012

strategi kognitif

EFEKTIFITAS STRATEGI KOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN I. PENDAHULUAN Strategi Kognitif ialah kemampuan internal yang terorganisasi yang dapat membantu mahasiswa dalam proses belajar, proses berpikir, memecahkan masalah dan mengambil keputusan (Gagne, 1974). Kemampuan strategi kognitif menyebabkan proses berpikir seseorang itu unik, yang disebut sebagai executive control (kontrol tingkat tinggi). Strategi kognitif tidak berhubungan dengan materi bidang ilmu tertentu, karena merupakan keterampilan berpikir mahasiswa secara internal dan dapat diterapkan dalam berbagai bidang ilmu. Strategi Kognitif merupakan tujuan belajar dengan kemampuan tertinggi dari domain kognitif, yaitu cognitive strategies menurut Taksonomi Gagne, atau di atas ( beyond) analisis, sintesis, dan evaluasi menurut Taksonomi Bloom (metacognition). Strategi Kognitif dapat dipelajari mahasiswa dengan bantuan dosen. Dosen disebut berhasil apabila mampu mengembangkan kemampuan strategi kognitif mahasiswa; perkuliahan bukan semata-mata penyampaian materi bidang ilmu saja. Taksonomi ialah klasifikasi atau pengelompokan benda menurut ciri-ciri tertentu. Dalam bidang pendidikan, taksonomi digunakan untuk klasifikasi tujuan instruksional; ada yang menamakannya tujuan pembelajaran, tujuan penampilan, atau sasaran belajar, yang digolongkan dalam 3 klasifikasi umum atau ranah (domain), yaitu :  Ranah Kognitif berkaitan dengan tujuan belajar yang berorientasi pada kemampuan berpikir  Ranah Afektif berhubungan dengan perasaan, emosi, sistem nilai, dan sikap hati)  Ranah Psikomotor (berorientasi pada keterampilan motorik atau penggunaan otot kerangka). Saat ini dikenal berbagai macam taksonomi tujuan instruksional yang diberi nama menurut penciptanya, misalnya Bloom, Merill dan Gagne (kognitif), Krathwohl, Martin & Briggs dan Gagne (afektif), dan Dave, Simpson dan Gagne (psikomotor). Satu hal yang penting dalam taksonomi tujuan instruksional ialah adanya hirarki yang dimulai dari tujuan instruksional pada jenjang terendah sampai jenjang tertinggi. Dengan kata lain, tujuan pada jenjang yang lebih tinggi tidak dapat dicapai sebelum tercapai tujuan pada jenjang di bawahnya. Penting pula diingat bahwa tidak terdapat batas yang jelas antara ranah yang satu dengan lainnya. Sebagai contoh, misalnya rumusan tujuannya dalam ranah kognitif Penerapan; tetapi seringkali tujuan kognitif ini disertai praktek yang memerlukan keterampilan motorik, demikian pula,misalnya pada rumusan tujuan instruksional dalam ranah kognitif yang perilakunya memilih, sudah terkait pula ranah afektif (sikap hati). Melakukan perumusan tujuan berdasarkan ranah, selalu dipilih yang mana yang lebih dominan. Pertama-tama kita melihat perbandingan Taksonomi Bloom dan Taksonomi Gagne pada Ranah Kognitif (Cognitive Domain) berikut : - Prosedur II. ANALISA EFEKTIFITAS PENERAPAN STRATEGI KOGNITIF a. Jenis-jenis strategi kognitif Gagne (1984) mengidentifikasi strategi kognitif berdasarkan alur proses instruksional mulai dari memperhatikan (attending), mengolah stimulus ( encoding), mencari kembali informasi (retrieval), dan berpikir. Untuk setiap tahap mahasiswa dapat menggunakan strategi kognitif yang berbeda-beda. West, Farmer dan Wolff (1991) menjelaskan adanya 4 keluarga besar strategi kognitif, yaitu Chnkung, Spatial, Bridging, dan Multipurpose. 1. Chunking, merupakan strategi mengorganisasikan sesuatu secara sistematis melalui proses mengurutkan (order), mengklasifikasi (classify, dan menyusun (arrange). Chunking dapat membantu seseorang untuk mengolah data yang sangat banyak atau proses yang sangat kompleks. Melalui chunking, seseorang memilah-milah materi kuliah atau masalah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, kemudian menyusun bagian-bagian tersebut secara berurut. 2. Spatial merupakan suatu strategi untuk menunjukkan hubungan antar hal yang satu dengan yang lain. Dalam kategori ini termasuk “frames” (tabel) dan “concept maps” (peta konsep) 3. Bridging merupakan strategi untuk menjembatani pemahaman seseorang melalui “metafor” (perumpamaan), analogi dan advance organizer. Metafor dan analogi merupakan strategi pengandaian yang dapat menjembatani suatu konsep baru dengan menggunakan konsep yang sudah dipahami sebelumnya. Advance organizer merupakan kerangka dalam bentuk abstraksi atau ringkasan tentang konsep-konsep dasar materi yang harus dipelajari, hanya dapat dibuat oleh dosen untuk memudahkan mahasiswa belajar. 4. Mulitpurpose merupakan strategi kognitif yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain rehearsal, imagery, dan mneumoncs (jembatan keledai). Rehearsal merupakan cara untuk untuk mereviu materi, bertanya, mengansipasi pertanyaan dan materi, yang hanya dapat dilakukan oleh mahasiswa, dosen dapat memberikan waktu agar mahasiswa dapat melakukan rehearsal. Imagery (membayangkan) merupakan proses visualisasi suatu konsep, kejadian, ataupun prinsip. Mneumonics merupakan alat bantu untuk mengingat, misalnya singkatan. b. Strategi Kognitif didasarkan pada : Paradigma konstruktivisme, teori metacognition, dan pengalaman di lapangan (reflection in action) Paradigma konstruktivisme Proporsi paradigma konstruktivisme dapat diterjemahkan menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih operasional, sebagai berikut: 1. Kepercayaan, nilai dan norma, motivasi, pengetahuan dan keterampilan, serta intuisi setiap orang akan sangat berpengaruh terhadap strategi dan kemampuan orang tersebut dalam menghadapi permasalahan yang dihadapinya. 2. Permasalahan yang dihadapi setiap orang tidak pernah dapat dipisahkan dari konteks situasinya. Strategi dan kemampuan seseorang dalam menghadapi masalah-masalah tersebut adalah unik. 3. Jika dikumpulkan strategi-strategi yang digunakan masing-masing orang dalam masalah tertentu, maka akan terlihat adanya pola dasar yang sama (generalizable pattern) dari strategi tersebut. Pola dasar teresebut diperlukan dan dapat dipelajari oleh orang (mahasiswa) lain, untuk menjadi bekal dasar dalam memecahkan masalah. Keberhasilan mahasiswa untuk memecahkan masalah di lapangan nantinya merupakan indikasi penguasaan strategi kognitif oleh mahasiswa tersebut yang terdiri dari pola dasar yang telah dipelajarinya, dan dipengaruhi oleh kepercayaan, nilai dan norma, motivasi, kemampuan dan keterampilan, serta intuisi mahasiswa tersebut dalam suatu konteks situasi. Teori Metacognition Metacognition, yang melandasi strategi kognitif merupakan keterampilan mahasiswa dalam mengatur dan mengontrol proses berpikirnya (Preisseisen, 1985), meliputi : 1. Keterampilan pemecahan masalah (problem solving), yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berpikirnya untuk memecahkan masalah melalui pengumpulan fakta, analisis informasi, menyusun berbagai alternatif pemecahan, dan memilih penyelesaian masalah yang efektif. 2. Kemampuuan pengambilan keputusan (decision making), yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berpikirnya untuk memilih suatu keputusan yang terbaik dari beberapa pilihan yang ada melalui pengumpulan informasi, perbandingan kebaikan dan kekurangan setiap alternatif, analisis informasi, dan pengambilan keputusan yang terbaik berdasarkan alasan-alasan yang rasional. 3. Kemampuan berpikir kritis (critical thinking), yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berpikirnya untuk menganalisis argumen dan memberikan interpretasi berdasarkan persepsi yang sahih melalui “logical reasoning” , analisis asumsi dan bias dari argumen, dan interpretasi logis. 4. Keterampilan berpikir kreatif (creative thinking), yaiyu keterampilan individu dalam menggunakan proses berpikirnya untuk menghasilkan suatu ide yang baru dan konstruktif, berdasarkan konsep-konsep, dan prinsip-prinsip yang rasional maupun persepsi dan intuisi individu. Keterampilan-Keterampilan tersebut tidak terpisah melainkan terintegrasi satu dengan yang lain. Jadi pada saat bersamaan ketika mahasiswa menggunakan strategi kognitifnya untuk memecahkan masalah, dia juga menggunakan keterampilannya untuk mengambil keputusan, berpikir kritis, dan berpikir kreatif. Reflection in Action Prinsip refleksi dari pengalaman-pengalaman praktisi profesional dalam pemecahan masalah-masalah yang pernah dihadapi untuk memecahkan masalah baru (praktisi-praktisi tersebut dikenal dengan nama reflective practitioners) disebut prinsip reflectioan in action (Schon, 1982) merupakan salah satu prinsip yang melandasi Strategi Kognitif Seorang praktisi yang profesional akan berpikir tentang apa yang dilakukannya, bahkan kadang-kadang sambil melakukan aksinya. Cara tersebut akan menjadi awal baginya untuk mencoba menyadari apa yang terjadi, apa respon atau reaksinya terhadap kejadian tersebut dan bagaimana ia dapat menyimpulkan apa masalah sesungguhnya. Pada saat itu, seorang praktisi profesional terlibat dalam pengaturan dan pengontrolan kognisinya secara intensif. Tidak jarang akan terlibat dalam situasi yang meragukan, problematik, atau membingungkan. Ketika ia berusaha untuk keluar dari keraguan, problematika, dan kebingungan tersebut ia merefleksikan apa-apa yang telah pernah dilakukannya dalam aksi-aksi sebelumnya untuk kemudian dipilah, diatur, dan diorganisasikan untuk dilakukan dalam aksi-aksi berikut. Proses ini dikenal dengan nama reflection in action, yang merupakan proses operasional utama dalam seseorang menggunakan strategi kognitif. Berdasarkan teori ini proses belajar dimulai dari pengalaman konkret yang dialami seseorang. Pengalaman tersebut diteflekdikan secara individual. Dalam proses refleksi, seseorang akan berusaha memahami apa yang terjadi atau apa yang dialami. Refkesi ini menjadi dasar proses kenseptualisasi atau proses pemahaman prinsip-prinsip yang mendasari pengalaman yang dialami serta perkiraan kemungkinan aplikasinya dalam situasi dan konteks yang lain atau baru. Proses implementasi merupakan situasi dan konteks yang memungkinkan penerapan konsep yang sudah dikuasai seseorang. Proses pengalaman dan refleksi dikategorikan sebagai proses penemuan (finding out), sedangkan proses konseptualisasi dan implementasi dikategorikan dalam proses penerapan (taking action). Proses keseluruhan ini terjadi berulang-ulang sehingga setiap action yang dilakukan seseorang merupakan hasil refleksi dari pengalaman atau kejadian yang dialami. Pemahaman analisis lebih lanjut nampak pada penjelasan berikut: a. strategi kognitif vs. keterampilan intelektual Strategi kognitif berbeda dengan keterampilan intelektual yang disebut "intelectual skills” (dalam taksonomi Gagne) atau aplikasi dalam taksonomi Bloom. Keterampilan intelektual lebih berorientasi kepada interaksi mahasiswa sebagai individu dengan lingkungan belajarnya, yaitu dengan angka, kata-kata, simbol, rumus, prinsip, prosedur, dan lain-lain. Dengan keterampilan intelektual, mahasiswa mampu mengerjakan (how to) sesuatu dengan fakta yang dimilikinya. Sedangkan strategi kognitif, merupakan kemampuan mahasiswa untuk mengontrol interaksinya dengan lingkungan. Contohnya, mahasiswa menggunakan strategi kognitif untuk membaca artikel di majalah ilmiah. Apa yang dipelajarinya dari artikel tersebut mungkin Cuma fakta, rumus-rumus, atau penerapan teori. Namun, untuk menyeleksi informasi yang dibacanya, memberikan kode terhadap informasi yang direkam dipikirannya, dan menemukan kembali informasi tersebut untuk keperluan lain, merupakan strategi kognitif. Dalam hal tersebut, mahasiswa mempergunakan strategi kognitif untuk memahami apa yang sudah dibaca dan dipelajarinya, dan untuk memecahkan masalah. Strategi kognitif merupakan cara mahasiswa untuk mengorganisasikan dan mengontrol proses belajarnya, dan juga berproses berpikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Jika mahasiswa menghadapi suatu masalah baru, diharapkan mahasiswa dapat menanganinya dengan mempergunakan informasi dan fakta-fakta, serta keterampilan intelektual yang pernah dipelajarinya. Namun, belum mencukupi, karena mahasiswa perlu mempunyai strategi untuk dapat menangani masalah baru tersebut. Diharapkan, mahasiswa akan dapat memilih cara penanganan masalah yang tepat dari berbagai strategi alternatif. Keunikan dan kebenaran proses berpikir mahasiswa ditentukan oleh ketepatan pemilihan strategi untuk menangani masalah baru tersebut. b. pengembangan strategi kognitif Strategi kognitif berkembang dalam waktu yang cukup lama dan panjang sebagai hasil dari pendidikan. Dalam hal ini, proses belajar merupakan proses yang penting dalam pengembangan strategi kognitif seseorang. Menurut Socrates dan John Dewey, belajar merupakan suatu kegiatan atau sesuatu yang dilakukan secara mental dan/atau fisik yang diikuti dengan kesempatan merefleksikan hal-hal yang dilakukan dari hasil perilaku tersebut. Strategi kognitif dikembangkan melalui proses refleksi perilaku ketika mahasiswa menghadapi masalah. West, Farmer, dan Wolf (1991) mengatakan bahwa dosen dapat mengembangkan strategi kognitif dalam proses penyampaian materi bidang ilmu (content), mengaktifkan strategi kognitif mahasiswa dalam penyajian materi bidang ilmu, menggunakan strategi kognitif untuk menyampaikan materi bidang ilmu ilmu. Strategi kognitif dikembangkan secara terpadu dengan penyajian mata kuliah bidang ilmu, tidak secara terpisah. Dosen dapat mengembangkan strategi kognitif mahasiswa : 1. dalam proses penyampaian materi bidang ilmu (content) 2. mengaktifkan strategi kognitif mahasiswa pada waktu menyajikan materi bidang ilmu 3. menggunakan strategi kognitif untuk menyampaikan bidang ilmu 4. Strategi Kognitif dikembangkan secara terpadu dengan penyajiam mata kuliah bidang ilmu, tidak secara terpisah. c. kecepatan belajar yang efektif Seringkali dosen mengelola perkuliahan dengan kecepatan yang tinggi, sehingga mahasiswa terbiasa untuk menjadi impulsive ‘bertindak reaktif terhadap sesuatu’. Jika dosen mengajukan pertanyaan, maka dosen mengharapkan mahasiswa untuk segera menjawabnya, dan akan meminta mahasiswa yang pertama menunjukkan jari untuk menjawab pertanyaan tersebut. Kecepatan yang tinggi berguna dalam beberapa hal, seperti mengukur pengetahuan mahasiswa (ingatan dan pemahaman) dan menyebabkan mahasiswa terus memperhatikan dosen. Namun, kecepatan seperti itu kurang bermanfaat bagi pengembangan strategi kognitif mahasiswa. Mahasiswa memerlukan waktu untuk berpikir dan mengatur proses berpikirnya. Mahasiswa perlu merefleksikan berbagai alternatif untuk menganalisis informasi dan untuk mencapai konklusi dari masalah atau kasus yang dihadapi. Mahasiswa juga perlu mengontrol proses berpikirnya. Proses tersebut memerlukan waktu yang cukup. Glatthom dan Baron (1985) mengusulkan agar dosen mau sabar menunggu jawaban mahasiswa terhadap pertanyaannya sementara memberi kesempatan mahasiswa untuk berpikir. Dengan demikian, dosen perlu benar-benar memperhitungkan kecepatan belajar yang efektif bagi mahasiswa untuk dapat menguasai keterampilan strategi kognitif. d. umpan balik Umpan balik merpakan faktor yang paling penting bagi mahasiswa untuk mempelajari keterampilan strategi kognitif. Umpan balik merupakan salah satu cara untuk meningkatkan motivasi mahasiswa untuk mempelajari keterampilan strategi kognitif. Mahasiswa perlu diberitahu tentang pencapaian hasil belajarnya. Jika seorang mahasiswa diharapkan memecahkan suatu masalah dengan kriteria keaslian, kreativitas, kebaruan (innovativeness) strategi pemecahan masalah yang digunakan, maka umpan balik yang baik perlu memberi tahu mahasiswa tentang pencapaian mahasiswa atas kriteria yang ditentukan, yaitu keaslian, kreativitas, dan kebaruan strategi yang digunakan. Umpan balik juga merupakan cara untuk mengetahui kebenaran dan ketepatan refleksi yang telah dilakukan. Refleksi itu sendiri merupakan suatu umpan balik. Masalah-masalah atau kasus-kasus yang disusun oleh dosen untuk digunakan dalam perkuliahan merupakan salah satu persyaratan untuk dapat melatihkan keterampilan strategi kognitif kepada mahasiswa. Satu persyaratan yang lain untuk dapat melatihkan keterampilan tersebut dengan lebih efektif adalah pemberian umpan balik yang tepat kepada mahasiswa, sehingga mahasiswa memahami tingkat pencapaiannya. III. PENUTUP Strategi Kognitif merupakan metode pembelajaran yang berdasarkan Kognitivisme. Peningkatan kualitas lulusan tidak terlepas dari metode pembelajaran yang sesuai untuk mahasiswa. Di sinilah strategi kognitif dapat berperan sebagai metode pembelajaran di samping metode yang biasanya digunakan. Pengembangan pengetahuan kognitif bisa dilakukan dengan cara membaca. Selanjutnya, bahwa penerimaan pengetahuan seseorang tidaklah sama satu dengan yang lainnya. Umpan balik dalam belajar merupakan faktor yang paling penting dalam mengasah kemampuan kognitif. DAFTAR PUSTAKA Behaviorism and constructivism. [On-line]. Available: http://hagar.up.ac.za/catts/learner/debbie/CADVANT.HTM Beyond constructivism - contextualism. [On-line]. Available: http://tiger.coe.missouri.edu/~t377/cx_intro.html Constructivist theory (J. Bruner). [On-line]. Available: http://www.gwu.edu/~tip/bruner.html Dick, W. (1991). An instructional designer's view of constructivism. Educational Technology, May, 41-44. Duffy, T. M., Jonassen, D. H. (1991). Constructivism: New implications for instructional technolgy? Educational Technology, May, 7-12. Jonassen, D. H., McAleese, T.M.R. (Undated). A Manifesto for a constructivist approach to technology in higher education. [On-line]. Available:http://led.gcal.ac.uk/clti/papers/TMPaper11.html Khalsa, G. (Undated). Constructivism. [On-line]. Available: http://www.gwu.edu/~etl/khalsa.html Kulikowski, S. (Undated). The constructivist tool bar. [On-line]. Available: http://www.coe.missouri.edu:80tiger.coe.missouri.edu/ Pannen, P. dkk. (2005) Konstruktivisme dalam Pembelajaran, PAU-PPAI-UT, DirJenDikti, DepDikNas. Shank, P. (Undated). Constructivist theory and internet based instruction. [On-line]. Available: http://www.gwu.edu/~etl/shank.html Smorgansbord, A., (Undated). Constructivism and instructional design. [On-line]. Available: http://hagar.up.ac.za/catts/learner/smorgan/cons.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar